Apa itu STIFIn ?
 Selasa, 4-September-2018 14:47

STIFIn adalah suatu konsep ilmu yang memetakan manusia berdasarkan system operasi otaknya. Dari berbagai teori yang ada, STIFIn membaginya menjadi lima bagian. Yang pertama sensing, thinking, intuiting, feeling, dan insting. Dalam konsep STIFIn kelima hal itu tergolong mesin kecerdasan. Disini kita bisa melihat bahwa ternyata STIFIn merupakan singkatan dari kelima mesin keceradasan tersebut.

Strata Genetik

Strata genetik adalah tingkatan factor genetik yang ada pada diri manusia. Jika diurut dari strata tertinggi, maka tingkatannya sebagai berikut :

1. Gender (pria dan wanita)
2. Mesin kecerdasan (sensing,thinking,intuiting,feeling,insting)
3. Drive (introvert,extrovert)
4. Kapasitas otak (kaitannya dengan IQ)
5. Golongan darah (A,O,AB,B)

Dengan memahami tingkatan strata genetik diatas, maka program pembinaan diri akan lebih optimal jika dilakukan di strata yang lebih tinggi, maka semakin terasa dampaknya. Misalnya dalam hal diet teori golongan darah telah mengeluarkan tips diet sesuai golongan darah. Namun jika diet dilakukan di level mesin kecerdasan dan gender, amak diet di strata genetik yang lebih tinggi dan akan lebih berhasil.

3 kekuatan konsep STIFIn

• Simple 
• Akurat
• Aplikatif

Kenapa STIFIn simple ?? STIFIn hanya mengelompokkan dalam 5 mesin kecerdasan dan 9 personality genetik. Konsep STIFIn bersifat multy angle theory, artinya STIFIn dapat dipakai untuk menjelaskan teori kecerdasan dan personality dari disiplin ilmu yang lain.

Konsep STIFIn juga digunakan untuk praktik penggemblengan diri dengan prinsip FOKUS-SATU-HEBAT. STIFIn lebih mampu menjelaskan realitas otak dalam keseharian, itulah mengapa STIFIn menganut kecerdasan tunggal. Setiap orang memang memiliki seluruh otak, namun hanya ada satu yang memimpin.

Kok bisa akurat ? STIFIn menguraikan cara kerja otak berdasarkan system operasinya, bukan kapasitas hardwarenya. STIFIn menggunakan system operasi yang berbicara tentang jenis watak kecerdasan. Tiap jenis kecerdasan punya wataknya masing-masing. Jenis watak kecerdasan itulah yang kemudia disebut sebagai mesin kecerdasan. STIFIn memetakan otak BUKAN berdasarkan BESAR VOLUME BELAHAN OTAK, melainkan berdasarkan BELAHAN OTAK YANG KERAP DIGUNAKAN. Itulah yang disebut SISTEM OPERASI.

STIFIn aplikatif loh !! seperti yang tadi sudah dijelaskan pertama bahwa STIFIn yang bercirikan multy angle field, artinya STIFIn dapat dipakai untuk menjelaskan bidang apa saja. STIFIn dapat diaplikasikan pada bidang parenting, learning, profession, couple, politic, human resources dll

Teori STIFIn dari 3 tokoh

CG Jung (sensing, thinking, intuition,feeling)
Ned Herrmann (limbic kiri, neokorteks kiri, limbic kanan, neokorteks kanan)
Paul MacLean (otak mamalia,insani,reptil)
Jika dikategorikan dari ketiga tokoh tersebut, STIFIn mengkategorikannya
Sensing = limbic kiri (otak mamalia)
Thinking = neokorteks kiri (otak insani)
Intuition = neokorteks kanan (otak insani)
Feeling = limbic kanan (otak mamalia)
Insting = Cerebellum (otak reptil)

STIFIn sebagai alat tes

STIFIn hanya menjawab 2 pertanyaan. Yaitu mengenai belahan otak yang dominan dan lapisan otak yang lebih aktif. Namun dari kedua hal tersebut kita dapat menggali jutaan informasi yang sangat bermanfaat dalam mengenali kepribadian, karakter, potensi dan informasi lain untuk pengembangan diri. Apa hubungannya guratan sidik jari dengan otak ?

PERTAMA, SETIAP INDIVIDU MANUSIA MEMILIKI SIDIK JARI YANG BERBEDA, bahwa jika sidik jari setiap manusia unik, maka komposisi otak setiap manusia dengan sendirinya juga unik. Sidik jari merupakan wajah sistem syaraf, dimana otak adalah pengendali sistem syaraf di seluruh tubuh sehingga sidik jari dengan sendirinya terhubung dengan otak secara langsung.

KEDUA, jumlah garis pada setiap jari mencerminkan kapasitas bagian otak tertentu. Dengan metode Ridge Counting, jumlah garis yang ada diantara delta dan core sidik jari pada setiap jari dapat diketahui. Dari hasil penghitungan itu yang berupa jumlah garis di setiap jari dapat disimpulkan ukuran otak masing-masing bagian. Hasil ridge counting inilah yang kira-kira sama dengan hasil analisis bentuk kepala kita.

Rumus Fenotip

Apa sih rumus dari 100% = Genetik 20% + Lingkungan 80% ?

Setiap manusia memiliki genetiknya masing-masing yaitu 20%, dan lingkungan yang sering kita temukan lalu menjadi aktivitas sehari-hari yang dapat membuat kita tertempa, menempati posisi tertinggi sekitar 80% dalam pengembangan diri.
Perlu diingat bahwa 20% yang kita miliki dibagian genetik sangatlah menentukan juga loh, hal itu mirip dengan “Hukum Dari Yang Sedikit (Law Of The Vital Few) dimana yang sedikitlah yang dominan/penentu.

Stifin disini berperan sebagai si pencari yang 20% ini. 20% yang ada pada diri kita secara lahiriah sulit sekali untuk kita rubah. Dengan konsep yang stifin berikan diniatkan sebagai amal kifayah untuk memudahkan manusia menemukan jalan SuksesMulianya. Sebagaimana seruan yang disebut 4 kali dalam Al Quran….i’maluu ‘alaa makaanatikum… atau berbuatlah sesuai dengan keberadaan-terbaikmu. Konsep STIFIn diharapkan menjadi bagian dari pencerahan agar manusia mampu menjalani keberadaan-terbaiknya. Siapa saja! Karena pada akhirnya fakta keseharian berbicara bahwa lebih mudah menggunakan pendekatan ala stifin yaitu system operasi dominan disyukuri, sedangkan kecerdasan yang bukan system operasi dibiarkan berkembang secara alamiah dan dijalankan dengan kombinasi yang seimbang.

Sususnan Otak Manusia

Paul Maclean stifin

Neokortex (Insani)

Lobus frontal (intelektual)

Lobus ovipetal (interpretasi visi)

Lobus parietal (sensorik dan asosiasi)

Lobus temporal

(memori dan audit)

Kanan : Intuition

Kiri : Thinking

Limbik (Mamalia Brain)

Girus singuli

Vertical lateral

Ganglia basal

Putamen

Amigdala

Hipokampus

Thalamus

Hypothalamus

Kelenjar hipofisis

Kanan : Feeling

Kiri : Sensing

Hindbrain (Reptilian Brain)

Corpuskolosum

Mid brain

Pons

Medulla

Cerebellum

Spinal/batang otak

Intinct



Pada otak tengah sangatlah berbeda, tidak seperti neokortex dan limbic. Otak tengah tidak lah mengumpul, melainkan menyebar di satu wilayah yang disebut wilayah kelompok otak tengah, lalu menyebar panjang hingga kebawah bersambung dengan susunan syaraf pusat hingga ke tulang ekor.

STIFIn Intellegent

• Sensing 
"Kecerdasan Inderawi"
praktis, konkret, sesuai jangkauan panca indra

• Thinking 
"Kecerdasan Berpikir“
mengandalkan pikiran logis, obyektif, & efektif

• Intuition 
"Kecerdasan Indra Keenam"
berpikiran jangka panjang, optimistis, terkonsep

• Feeling 
"Kecerdasan Perasaan"
andalkan perasaan, mengutamakan rasa

• Instinct 
"Kecerdasan Indra Ketujuh"
spontan, pragmatis, rela berkorban

Perbedaan MK Dan Persamaan MK

Thinking : logis, objektif tapi raja tega (manager)
Intuiting : kreatif, koseptor tapi asocial (pencipta)
Sensing : rajin dan ulet tapi suka senang-senang (peniru)
Feeling : pandai berempati tapi mata keranjang (leader)
Intuiting : Buas, kesalehan yang tinggi (serba bisa)
sensing dan intuiting mempunyai kesamaan, yaitu sama sama berada pada diagonal produksi. Mereka memproduksi ide atau sesuatu inovasi yang dapat mereka tuangkan, akan tetapi orang intuiting mereka lebih menciptakan sesuatu dengan original, akan tetapi jika sensing lebih meniru dari hal yang sudah ada, setelah itu ia kombinasikan dengan ide satu dengan ide yang lainnya. 
Sedangkan feeling dan thinking mempunyai kesamaan yaitu berada pada diagonal organisasi, artinya mereka lebih menyukai hal-hal organisasi. Thinking mengorganisasikan dengan kepala dalam bentuk managerialship. Tinking sebagai manager. Lalu Feeling mengorganisasikan dengan hati dalam bentuk leadership. Feeling sebagai leader. Anda pasti bisa melihat perbedaan antara seorang manager dengan seorang pemimpin kan? Manager mementingkan proses dan hasil, pemimpin mementingkan manusia dengan emosinya.

Karakter MK

Sensing

• Berpijak pada yang nyata dan actual
• Mengolah infomasi berdasarkan panca-indra
• Lebih berminat pada aplikasi praktis
• Faktual dan memperhatikan detail
• Menguraikan peristiwa secara urut
• Orientasi pada masa kini
• Menyerap gagasan secara bertahap
• Menyukai kesempatan untuk praktik
• Mengandalkan pengalaman
• Pola bicara yang jelas dan teratur
• Pikiran yang terangkai satu demi satu, diikuti yang lainnnya
• Berpikir linear, menggunakan fakta dan contoh yang jelas
• Menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi
• Lebih memahami tubuhnya
• Menyukai cerita non-fiksi
• Tertarik pada pekerjaan yang membutuhkan kepraktisan
• Mengingat masa lalu dengan akurat
• Cenderung mendengar sampai lengkap
• Langsung menuju sasaran
• Memasukkan detail dan fakta

Thinking

• Lebih sering menggunakan pikiran
• Memecahkan masalah secara logis
• Though-minded
• Menggunakan hubungan sebab-akibat
• Melakukan analisis tanpa mempertimbangkan pribadi
• Menghargai sesuatu yang masuk akal
• Adil, keputusannya didasarkan pada kriteria yang objektif
• Dingin, menjaga jarak dengan orang lain
• Tampak seperti tidak peka
• Berargumen dan berdebat sebagai pemikir kritis
• Jarang bertanya bila waktu tidak memungkinkan
• Menunjukkan data
• Memberikan pujian yang formal
• Memiliki ketegasan menuntut hak
• Menggunakan bahasa yang tidak pribadi
• Percaya diri mengatas-namakan diri sendiri
• Lebih kritis membenahi pekerjaan

Intuiting

• Perhatiannya pada gambaran umum
• Mengolah informasi berdasarkan intuisi
• Lebih berminat pada pemahaman imajinatif
• Abstrak dan teoretis
• Melihat pola dan makna
• Orientasi pada masa depan
• Mulai dari mana saja
• Menyukai kemungkinan untuk berdaya cipta
• Mengandalkan inspirasi
• Pola bicara beragam, menggunakan banyak kalimat perbandingan 
• Memiliki pikiran yang berputar, tetapi terpola
• Figuratif, menggunakan analogi dan metafora
• Menggunakan bahasa untuk mengekspresikan diri sendiri
• Memberi ruang alternatif, dan tidak cepat menyimpulkan
• Tertarik pada pekerjaan yang melibatkan kreativitas
• Menyukai cerita fiksi
• Berbicara hanya hal-hal besar dan strategis
• Cenderung sering menyelesaikan kalimat orang lain
• Tampak intelek dan berkelas

Feeling

• Lebih sering menggunakan perasaan
• Ingin menyenangkan orang lain
• Mencari keharmonisan
• Ingin selalu memimpin
• Pertimbangannya berdasarkan kasih sayang
• Menghargai orang lain
• Mengambil keputusan dengan mempertimbangkan akibatnya terhadap orang lain
• Hangat dan ramah kepada orang lain
• Pandai berempati
• Bertanya jika memungkinkan
• Menghindari argumen, konflik, dan konfrontasi
• Perasaan mereka mudah sakit dan dendam
• Memulai dengan pembicaraan kecil
• Mampu menunjukkan kekaguman dan emosional
• Kurang memiliki ketegasan menuntut hak
• Menggunakan banyak kata-kata berharga
• Sering menggunakan nama orang lain
• Bekerja sama di komunitas sosial dengan baik

Insting

• Bereaksi secara spontan
• mengolah informasi menggunakan naluri
• Lebih berminat memberikan kontribusi
• Pragmatis, tetapi memiliki insight
• Mengingat hal-hal yang berkesan
• Orientasi pada mencari kebahagiaan
• Menyerap informasi secara generalis
• Menyukai kesempatan untuk berperan serta
• Mengandalkan pertimbangan holistic
• Pola bicara yang pendek, ya dan tidak
• Pikiran sederhana, polos, dan tidak aneh-aneh
• Berpikir spontan dan ad hoc
• Menggunakan interaksi impersonal
• Keterampilan serba-bisa
• Menyukai pekerjaan sosial menolong orang
• Tidak suka konflik
• Traumatik dengan kejadian yang menyakitkan
• Mudah beradaptasi
• Menjadi penghubung untuk mendamaikan
• Sangat to the point

Respon Golongan Darah

Masih ingat teori strata genetik? Golongan darah masuk ke kelompok yang paling bawah loh!! Faktor genetik yang disebut terakhir ini memberikan pengaruh cukup besar pada stimulus spontan tapi sangat kecil pada pengambilan keputusan yang strategis yang memerlukan banyak pertimbangan. Hal ini bisa terlihat saat seseorang menjalani tes tertulis (paper & pencil test) pengaruh golongan darah sangat mempengaruhi pilihan mereka. Contohnya, orang T yang bergolongan darah O saat tes tertulis akan mengisi kuisioner dengan pilihan suka menolong daripada berbuat adil seperti sifat kecerdasannya. Semua itu karena faktor golongan darah yang bersifat spontan, labil, dan sementara. Berikut adalah pengaruh sesaat yang diberikan oleh golongan darah :

Golong darah O menyuruh otak menjadi orang F,
Golongan darah A menyuruh otak menjadi orang T,
Golongan darah AB menyuruh otak menjadi orang S,
Golongan darah B menyuruh otak untuk menjadi orang I.

Kesimpulannya, golongan darah hanya menjadi tukang antar pesan, seperti layaknya tukang pos yang mengantarkan surat sambil mewarnai kemasan pesan, namun tetap akhirnya mesin kecerdasan yang akan memutuskan.

Tabel Keselarasan system operasi stifin dengan Teori Pendahulu

Tabel keselarasan sistem operasi STIFIn dengan beberapa fungsidan tipologi dari berbagai teori lama yang eksis hingga saat ini.

Sistem Operasi Kecerdasan Belahan Otak
(STIFIn)
Sistem Cairan Tubuh (Galen)

Sistem Cuaca Tubuh
(Hippocrates)
Sistem Semesta Tubuh
(Empedokles)
 Sistem Rangsangan Tubuh (Ivan Pavlov)
Sensing
(limbik kiri)
Choleric Kering
(empedu kuning)
Tanah Eksitasi tinggi,
Inhibisi rendah
Thinking
(neokorteks kiri)
Phlegmatic Dingin
(empedu hitam)
Logam Eksitasi rendah,
Inhibisi tinggi
Intuiting
(neokorteks kanan)
Melancholic Basah
(lendir)
Kayu Eksitasi rendah,
Inhibisi rendah
Feeling
(limbik kanan)
Sanguinis Panas
(Darah)
Api Eksitasi tinggi,
Inhibisi tinggi
Insting (otak tengah) -
Altruist
-
(cairan tubuh)
Air Tanpa eksitasi dan inhibisi

 

Sistem Fungsi Tubuh (Sigaud)
Sistem Organ Tubuh (TCM)

Sistem Konstitusi Tubuh (Kretschmer)
Teori Belahan Otak (Al Ghazali) Teori Perilaku Kerja
(William M Marston)

Muscular

Limpa Atletis Permulaan Dasar Dominance
Cerebral Ginjal Piknis
Permulaan Berlobang
Compliance
Digestive Hati Astenis Pangkal Berlobang Steadiness
Respiratory
Jantung
Displastis Pangkal Dasar Influence
Circulatory Organ sirkuler Stenis Bagian Tengah (Dimmagh) -
Mediation

 

Dari tabel di atas, Anda akan sepakat bahwa setiap orang sesungguhnya mempunyai kelima bagian otak (sistem operasi otak). Namun, hanya ada satu jenis kecerdasan yang dominan. Kami meyakini, di balik segala hal yang melekat pada diri individu terdapat belahan otak yang bekerja paling dominan. Belahan otak tersebut memberi kontribusi seutuhnya kepada sifat individu. Sifat belahan otak tersebut kemudian membuat konstitusi tubuh menjadi selaras dengan berbagai fungsi tubuh yang melekat secara genetik pada jenis individu tertentu.

Pada tabel tersebut terlihat, setiap orang hanya memiliki satu jenis konstitusi tubuh, satu jenis tipologi, dan satu jenis fungsi metabolisme tubuh, serta perilaku pada saat bekerja. Satu yang dominan itulah yang menjadi kekuatan utama, sesuai dengan
kecerdasan tunggalnya.

Fungsi otak reptilia

Paul Maclean menyebutkan, ada bagian otak lain, yang disebut otak reptilia (reptilian brain). Paul MacLean membagi otak menjadi tiga bagian, yaitu otak insani, otak mamalia, dan otak reptilia. Otak reptilia merupakan bagian penyangga otak yang terhubung langsung dengan sumsum tulang belakang. Otak reptilian merupakan gabungan dari serebelum, medula, otak tengah (midbrain), pons, dan batang otak (brain stem).

• Serebelum = Fungsi utamanya adalah menjaga keseimbangan dan koordinasi gerakan tubuh; memulai gerakan awal tubuh, seperti berjalan dan menari, tetapi tidak mampu menangani gerakan kompleks dengan baik; dan terlibat dalam pembelajaran kemahiran gerakan.
• Medula = Membantu mengendalikan fungsi tubuh, seperti pernapasan,pencernaan, dan detak jantung. 
• Otak Tengah = Membantu sebagaian besar fungsi sensorik-motorik.
• Pons = Mengantarkan dan menerima perintah tentang gerakan.
• Batang otak = Menghubungkan sistem saraf dengan tubuh, sehingga keduanya dapat berkomunikasi secara cepat.

Dengan menelaah fisiologis otak reptilia tersebut, sangat signifikan bila otak reptilia digolongkan sebagai jenis kecerdasan tersendiri, yaitu kecerdasan kelima yang kami sebut sebagai kecerdasan Insting (In). Maka, konsep personality yang dahulu dikenal dengan akronim STIF menjadi STIFIn. STIFIn tidak akan ditambah dengan tipe kecerdasan lain. Pun STIFIn tidak akan dikurangi tipe kecerdasannya.

Matra Kecerdasan

Matra kecerdasan merupakan tingkatan yang berbeda pada dimensi yang berbeda.

Pada matra personalitas, kita mengetahui bahwa setiap orang memiliki kecerdasan, dengan sisi kelebihan dan kelemahan. Misalnya, jenis kecerdasan Thinking yang memiliki kelemahan dalam berempati, tega terhadap orang, sepanjang masih berada di dimensi personalitas, hal itu
masih dapat dipahami dan diterima. Ibarat anak kecil yang tegaan, kita dapat memakluminya karena menganggap itu sudah given dan “dari sononya.”

“Matra akan berubah menaiki dimensi diatasnya seiring dengan pertambahan usia, pengetahuan individu serta tempaan lingkungan”

Pada tingkat mentalitas, individu sudah memiliki value. Kecerdasan pada matra mentalitas adalah ukuran perilaku baik-buruk sebagai individu dengan segala kelebihan dan kekurangan. Pada level mentalitas, individu menyadari sikap orang lain yang berbeda dan unik sehingga mampu menerimanya. Di level tersebut, setiap orang mampu meraih sukses untuk dirinya sendiri dan menerima kesuksesan orang lain sesuai dengan potensi kecerdasannya.

Matra moralitas merupakan tingkatan level ketika individu mampu berbagi kesuksesan dengan orang lain, sebagaimana konsep Sukses- Mulia. Kesuksesan tersebut dapat diraih dengan bertumbuh bersama orang lain. Ukurannya adalah baik dan buruk dirinya terhadap orang lain dan masyarakat sosialnya. Individu dikatakan naik matra ke dimensi moralitas apabila ia bertindak tidak hanya untuk dirinya, melainkan juga untuk orang sekitar (mental kekitaan).

Matra spiritualitas merupakan tingkatan tertinggi. Kecerdasan pada matra spiritualitas merupakan ukuran baik buruk dirinya di hadapan Tuhan. Perbuatan yang dilakukan ditujukan untuk Tuhan.